Guru! Hati-hati "Jebakan" Teacher Talking Time

SELAMAT DATANG DI INFOKEMENDIKBUD_Saat sekolah dulu, pernah mendengarkan guru melontarkan kalimat ini? Atau bagi seorang guru, pernahkah melakukan ini?

Terkadang, guru jengkel bahkan emosi saat proses kegiatan belajar mengajar, tetiba melihat siswa yang tertidur, atau ada siswa yang sibuk bercerita dan cekikikan dengan teman sebangku di barisan belakang.

Adalah hal wajar jika kemudian guru berkeinginan menjadi pusat perhatian saat menjelaskan materi ajar. Berusaha melakukan dengan cara yang menarik, dan berharap semua siswa di kelas mengerti dan memahami.

Sebagian guru memaknai, mengajar adalah berdiri dan berbicara di depan kelas untuk menjelaskan materi ajar. Dan menganggap "habitat sejati" guru adalah berbicara. Pasti berasa ada yang kurang, mengaku mengajar tapi tak berbicara. Iya, kan?


Pertanyaannya, berapa lama waktu guru menjelaskan materi itu?

Teacher Talking Time (TTT), adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan berapa banyak guru berbicara selama jam pelajaran. Konsep ini mengajak guru menghitung ulang, berapa besar dominasi guru dibandingkan dominasi siswa di dalam kelas.

Aku coba menghitung. Jika dua jam pelajaran (2x45 menit) dengan 30 orang siswa di kelas. Artinya durasi waktu total adalah 90 menit. Bila seorang Guru menghabiskan 60 menit berbicara, maka setiap siswa hanya memiliki 1 menit waktu berbicara selama dua jam pelajaran!

Jejangan, gegara waktu pelajaran dihabiskan oleh guru dengan metode ceramah, maka kemudian reaksi siswa adalah mengantuk, tak konsentrasi, merasa bosan atau malah tertidur.

Apalagi jika materi ajar itu dianggap berat, waktu belajar pada jam-jam rawan (siang atau sesudah zuhur) dengan perut yang lapar. Lengkap sudah!

Apa yang harus dilakukan? Memindahkan dominasi waktu bicara di kelas!

Dari Teacher Talking Time (TTT) menjadi Student Talking Time (STT).
Ada baiknya, guru perlahan mulai mengurangi waktu bicara di kelas. Dan waktu bicara kelas musti dimaksimalkan. Alasannya?

Pertama. Waktu bicara guru terlalu banyak dibanding waktu bicara siswa. Padahal, jika menilik segitiga cara belajar (Audio -- Visual - Audio Visual), tak semua siswa mampu menyerap pelajaran dengan mendengarkan, tah?

Kedua. Sejumlah besar waktu bicara guru menyebabkan hilangnya konsentrasi juga mengurangi waktu belajar bagi siswa, karena waktu dihabiskan oleh guru yang sibuk bicara. Dampak bagi guru? Lelah dan capek, kan?

Ketiga. Penjelasan panjang guru akan menghadirkan kebosanan, juga sulit diikuti dan dimengerti siswa. Kuambil contoh, ibarat siswa yang membaca dan menghapal paragraf yang panjang tanpa jeda! Apalagi, jika guru menggunakan istilah-istilah baru bagi siswa. Hiks...

Keempat. Banyaknya waktu bicara guru itu, mengurangi kesempatan siswa untuk melatih dan mengembangkan keterampilan berbicara. Siswa menjadi objek yang pasif. Duduk diam dan tak melakukan apapun selama guru bicara.  

Coba simulasikan, dua jam pelajaran dengan metode ceramah. 60 menit guru menjelaskan, dan 30 menit terakhir berujar, "ada pertanyaan, anak-anak?" Adakah satu, dua atau lima orang yang bertanya?  

Kelima. Waktu bicara guru tanpa sadar, membuat siswa tidak bertanggungjawab atas pembelajaran mereka sendiri. Malah guru yang mengambil tanggungjawab itu dengan berusaha lebih keras menjelaskan. Lagi, dan lagi...

Terus, Bagaimana Cara Mengubahnya?
Ada ratusan metode mengajar yang banyak dikenal oleh praktisi pendidikan. Bahkan, setiap ada pelatihan peningkatan mutu guru, perubahan kurikulum atau sekedar penyegaran profesi guru. Akan dibagikan metode baru!

Beberapa yang acapkali dilakukan semisal Brainstorming (curah pendapat), Roll playing (bermain peran), Snow Bowling (bola salju), Jigsaw (bertukar informasi), atau Picture and Picture (mengurutkan gambar).

Beberapa pilihan itu bisa dilakukan, untuk memindahkan pola guru yang banyak bicara dan aktif, menjadi siswa yang mendominasi kelas. Caranya?

Pertama. Membagi kelompok di kelas. Secara acak atau permanen. Bisa berpasangan atau lebih. Guru menciptakan kegiatan belajar yang mendorong siswa saling berbicara dan berinteraksi.

Kedua. Menstimulasi siswa sebagai pemberi informasi dan saling berbagi informasi antar siswa. Guru bukan lagi sebagai sumber informasi, tapi fasilitator sekaligus moderator dari informasi yang disampaikan.

Ketiga. Memilih instruksi yang tepat, sederhana dan jelas. Acapkali ditemukan, guru akhirnya marah, saat instruksinya tak dipahami dan musti dilakukan berulangkali. Atau jejangan pemilihan instruksi guru yang keliru?

Keempat. Menggeser peran. Guru bukan lagi pusat perhatian di kelas. Tapi semua kegiatan berpusat pada siswa. Tak perlu khawatir kelas menjadi heboh atau malah hening. Jejangan itu adalah jeda waktu anak berfikir dan menyerap pembelajaran.

Demikian berita dan informasi terkini yang dapat kami sampaikan. Silahkan like fanspage dan tetap kunjungi situs kami di WWW.KEMENDIKBUDINFO.COM,  Kami senantiasa memberikan berita dan informasi terupdate dan teraktual yang dilansir dari berbagai sumber terpercaya. Terima Kasih atas kunjungan anda semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat.
loading...

0 Response to "Guru! Hati-hati "Jebakan" Teacher Talking Time"

Post a comment

Note: only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel